Peristiwa

Tanah Seribu, Jejak Sejarah Cikal Bakal Pontianak yang Disiapkan Jadi Ikon Budaya

3
×

Tanah Seribu, Jejak Sejarah Cikal Bakal Pontianak yang Disiapkan Jadi Ikon Budaya

Sebarkan artikel ini

Pontianak, Warganet – Kawasan Tanah Seribu atau Duizend Vierkante Paal menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan sejarah berdirinya Kota Pontianak. Kawasan tersebut memiliki peran besar dalam perkembangan sosial, politik, ekonomi, hingga budaya sejak masa Kesultanan Pontianak dan pemerintahan kolonial.

 

Pemerintah Kota Pontianak mendorong kawasan Tanah Seribu untuk terus dikembangkan sebagai ikon budaya yang memperkuat identitas sejarah sekaligus potensi pariwisata Kota Pontianak.

 

Mengutip laman resmi Pemerintah Kota Pontianak, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengajak masyarakat untuk memahami kembali sejarah berdirinya Kota Pontianak yang tidak terlepas dari kawasan Tanah Seribu. Menurutnya, kawasan tersebut merupakan salah satu lembaran penting yang memaknai dinamika sejarah cikal bakal berdirinya Kota Pontianak.

 

“Kota Pontianak didirikan pada tahun 1771. Tanah Seribu merupakan salah satu lembaran penting yang memaknai dinamika sejarah cikal bakal berdirinya Kota Pontianak,” ujar Edi saat membuka Festival Budaya Khatulistiwa Kawasan Tanah Seribu di Taman Alun Kapuas, Minggu (26/7/2026).

 

Edi menjelaskan, kesepakatan Tanah Seribu antara Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie dengan VOC pada masanya melahirkan dua karakter kawasan yang berbeda.

 

Di kawasan Istana Kadriah berkembang arsitektur tradisional berbahan kayu dengan konsep rumah panggung yang mencerminkan budaya masyarakat setempat. Sementara itu, kawasan di selatan istana berkembang sebagai pusat administrasi kolonial dengan bangunan bergaya Eropa.

 

Menurut Edi, bangunan-bangunan bersejarah yang masih berdiri hingga kini menjadi bukti perjalanan panjang Kota Pontianak. Sejumlah bangunan seperti Kantor Pos, Istana Kadriah, Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, SD Negeri 14, hingga Rumah Sakit Jiwa telah ditetapkan sebagai cagar budaya mulai dari tingkat kota, provinsi, hingga nasional.

 

“Bangunan-bangunan tersebut bukan bangunan biasa. Di dalamnya tersimpan jejak sejarah perkembangan Kota Pontianak sehingga layak disebut sebagai museum hidup,” katanya.

 

Untuk memperkuat pelestarian sejarah, Pemerintah Kota Pontianak berencana merevitalisasi SD Negeri 14 menjadi museum fungsional. Museum tersebut nantinya diharapkan menjadi pusat penyimpanan dan pelestarian warisan budaya, baik berupa benda bersejarah maupun budaya takbenda.

 

Selain menjadi tempat penyimpanan artefak, museum tersebut juga akan menjadi ruang edukasi bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat perjalanan sejarah Kota Pontianak.

 

Edi mengajak masyarakat, akademisi, komunitas, dan dunia usaha untuk ikut mendukung upaya pelestarian budaya. Salah satunya dengan menyerahkan koleksi benda bersejarah yang masih tersimpan secara pribadi agar dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari koleksi museum.

 

“Lebih baik disimpan di museum agar dapat disaksikan masyarakat dan menjadi cerita Pontianak tempo dulu,” tuturnya.

 

Selain pelestarian bangunan bersejarah, Pemkot Pontianak juga mendorong pengembangan kawasan budaya seperti Pasar Tengah, Kampung Beting, dan tepian Sungai Kapuas.

 

Menurut Edi, kawasan tersebut dapat dikembangkan sebagai kawasan budaya yang tetap mempertahankan kearifan lokal, namun ditata dengan konsep modern sehingga mampu menjadi daya tarik wisata.

 

Ia menilai, pengembangan kawasan bersejarah membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas, dan dunia usaha agar warisan budaya Kota Pontianak dapat terus hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

 

Festival Budaya Khatulistiwa Kawasan Tanah Seribu yang berlangsung pada 24 hingga 26 Juli 2026 menjadi momentum kolaborasi berbagai pihak dalam memperkuat pelestarian sejarah, cagar budaya, dan identitas Kota Pontianak.

 

Melalui kegiatan tersebut, Pemerintah Kota Pontianak berharap Tanah Seribu dapat berkembang menjadi destinasi wisata berbasis budaya sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga warisan sejarah Kota Pontianak.

 

“Saya yakin kegiatan seperti ini dapat menjadi destinasi wisata berbasis budaya sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap sejarah dan cagar budaya Kota Pontianak,” tutup Edi.