Pendidikan

Daya Saing PTKIN Jadi Fokus Baru Kemenag, Program Studi Akan Dikelompokkan ke Jalur Akademik, Profesi, dan Vokasi

3
×

Daya Saing PTKIN Jadi Fokus Baru Kemenag, Program Studi Akan Dikelompokkan ke Jalur Akademik, Profesi, dan Vokasi

Sebarkan artikel ini

Jakarta, Warganet – Daya saing PTKIN menjadi fokus baru Kementerian Agama (Kemenag) melalui restrukturisasi program studi, pendidikan profesi, vokasi, hingga internasasionalisasi kampus. Strategi meningkatkan daya saing PTKIN ini disiapkan agar perguruan tinggi keagamaan Islam mampu menghasilkan lulusan yang lebih kompetitif.

Strategi tersebut mencakup restrukturisasi program studi, penguatan pendidikan profesi, pengembangan vokasi, internasionalisasi kampus, serta pembinaan karakter keagamaan mahasiswa. Dengan langkah itu, PTKIN diharapkan semakin adaptif terhadap kebutuhan zaman.

Langkah pertama yang disiapkan ialah merombak struktur program studi. Selama ini PTKIN memiliki sekitar 54 program studi. Ke depan, Kemenag akan mengelompokkannya menjadi tiga kategori, yakni akademik, profesi, dan vokasi.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Amien Suyitno, mengatakan perubahan tersebut bertujuan memperkuat daya saing PTKIN sekaligus memperluas minat masyarakat. “Saat ini jumlah prodi kita baru 54. Ke depan, kita akan membaginya ke dalam tiga kategori varian besar, yaitu prodi akademik seperti design technology, prodi profesi, dan prodi vokasi. Ini akan menjadi daya magnet baru agar animo masyarakat masuk PTKIN semakin luas.”

Selain memperluas pilihan studi, kebijakan tersebut diharapkan membuat lulusan lebih siap menghadapi kebutuhan dunia kerja.

Kemenag juga menyiapkan pendidikan profesi di lingkungan PTKIN. Salah satu yang sedang dijajaki ialah Pendidikan Profesi Advokat Syariah dan Pendidikan Profesi Akuntan Syariah.

Selama ini pendidikan profesi lebih banyak dikelola asosiasi. Karena itu, PTKIN akan mengambil peran lebih besar dalam penyelenggaraannya.

“Selama ini bidang ini hanya diurusi oleh asosiasi. Sudah saatnya PTKIN mengambil peran strategis untuk menyelenggarakan pendidikan profesi ini secara resmi.”

Dengan hadirnya pendidikan profesi, lulusan PTKIN diharapkan memiliki peluang kerja yang lebih luas.

Internasionalisasi Tingkatkan Daya Saing PTKIN

Selain memperbarui program studi, Kemenag juga ingin meningkatkan daya saing PTKIN melalui kerja sama internasional.

Karena itu, Kemenag menyiapkan reciprocal program. Program ini tidak hanya mengirim mahasiswa ke luar negeri, tetapi juga mengundang mahasiswa asing untuk belajar di PTKIN.

Menurut Suyitno, kehadiran mahasiswa asing akan memperkuat reputasi kampus Islam Indonesia di tingkat global.

“Kita tidak boleh hanya mengeksport mahasiswa atau dosen kita ke luar negeri, tetapi ke depan, kita juga harus mengimpor atau mendatangkan mahasiswa asing untuk belajar di PTKIN kita.”

Di sisi lain, Kemenag memastikan modernisasi pendidikan tidak mengurangi penguatan nilai keagamaan. Karena itu, seluruh PTKIN akan diaudit terkait keberadaan Ma’had Al-Jamiah.

Setiap kampus wajib menerapkan salah satu dari tiga model Ma’had, baik membangun secara mandiri, bekerja sama dengan pesantren, maupun memanfaatkan fasilitas kampus.

Menurut Suyitno, kebijakan tersebut penting agar seluruh lulusan tetap memiliki kemampuan dasar keagamaan. “

Apapun program studinya, tidak bisa mengaji itu adalah aib bagi kita semua. Dan Ma’had Al-Jamiah adalah salah satu instrumen paling efektif yang kita miliki untuk memastikan seluruh mahasiswa PTKIN memiliki kompetensi keagamaan yang kokoh.”

Melalui restrukturisasi program studi, pendidikan profesi, internasionalisasi, dan penguatan Ma’had, Kemenag ingin membangun daya saing PTKIN secara menyeluruh. Dengan demikian, PTKIN tidak hanya mampu menjawab kebutuhan dunia kerja, tetapi juga tetap mempertahankan identitasnya sebagai perguruan tinggi berbasis nilai-nilai keislaman. (***)