Ekonomi Dan BisnisKesehatanLifestylePendidikan

Dari Sampah Jadi Cuan, SDN Joglo 05 Raup hingga Rp7 Juta Sebulan

6
×

Dari Sampah Jadi Cuan, SDN Joglo 05 Raup hingga Rp7 Juta Sebulan

Sebarkan artikel ini

Jakarta Barat, Warganet – Sampah tak lagi sekadar menjadi limbah di SDN Joglo 05, Kelurahan Joglo, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat. Sekolah tersebut berhasil mengembangkan kawasan zero waste dengan mengolah sampah organik dan anorganik sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi warga sekolah.

 

Melansir laman resmi Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Barat, pengelolaan sampah di SDN Joglo 05 dilakukan melalui berbagai kegiatan, mulai dari pemilahan sampah anorganik, komposting, budidaya maggot, hingga penerapan aturan wajib membawa tumbler bagi seluruh siswa.

 

Kepala SDN Joglo 05, Veranika, mengatakan edukasi mengenai pemilahan sampah dan kebersihan lingkungan terus diberikan kepada murid maupun orang tua. Penerapan kawasan sekolah zero waste tersebut telah dimulai sejak Desember 2024.

 

“Kami secara teknis bekerja sama dengan sejumlah pihak untuk bisa mengelola sampah organik dan anorganik. Edukasi terus kita masifkan hingga saat ini bisa kita terapkan zero waste di lingkungan SDN Joglo 05,” ujar Veranika, Rabu (12/8/2026).

 

Saat ini, SDN Joglo 05 memiliki 493 murid dari kelas I hingga VI. Para siswa secara rutin mengumpulkan sampah anorganik untuk kemudian ditimbang dan dicatat sebagai tabungan di Bank Sampah Kartabumi Recycling Center.

 

Penimbangan dilakukan setiap dua pekan. Sampah yang dikumpulkan terdiri atas berbagai jenis, seperti kertas, kardus, plastik, besi, hingga styrofoam.

 

Tak hanya siswa, kegiatan tersebut juga melibatkan civitas sekolah dan orang tua murid. Total nasabah yang tercatat bahkan mencapai sekitar 800 orang.

 

Volume sampah yang dikumpulkan dalam setiap penimbangan dapat mencapai 2 ton. Jika dikonversikan ke nilai ekonomi, hasilnya berkisar Rp6 juta hingga Rp7 juta per bulan dan dicatat sebagai tabungan masing-masing nasabah berdasarkan jumlah sampah yang disetorkan.

 

Artinya, sampah yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan kini memiliki nilai ekonomi sekaligus menjadi sarana edukasi bagi siswa untuk membangun kebiasaan memilah sampah sejak dini.

 

Pengelolaan sampah di SDN Joglo 05 juga tidak berhenti pada penyetoran ke bank sampah. Sekolah mulai mengembangkan sampah anorganik menjadi berbagai produk kerajinan.

 

Sejumlah produk yang telah dihasilkan antara lain gantungan kunci, pouch ponsel, tali ponsel, hingga gelang dari manik-manik berbahan plastik bekas.

 

Untuk sampah organik, sekolah mengembangkan komposter, eco-enzyme, dan budidaya maggot. Bahkan, kegiatan komposting menggunakan metode bio-dekomposter dan compost bag telah dijadikan program kokurikuler bagi siswa Fase A.

 

“Setelah kompos jadi dalam durasi tiga bulan, program dilanjutkan ke proyek berikutnya, yaitu urban farming,” ungkap Veranika.

 

Kompos yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan sebagai media tanam dalam program urban farming. Sekolah menggunakan sistem vertikal dengan menanam berbagai jenis sayuran menggunakan pot yang digantung di pagar.

 

Upaya mengurangi sampah plastik juga dilakukan dengan mewajibkan siswa membawa tumbler. Murid tidak diperbolehkan membawa air minum kemasan plastik ke lingkungan sekolah.

 

Sebagai gantinya, sekolah menyediakan mesin Reverse Osmosis (RO) yang dapat digunakan secara gratis oleh seluruh siswa dan civitas sekolah. Air yang tersedia dapat dikonsumsi dalam kondisi dingin, panas, maupun normal.

 

Veranika menilai berbagai langkah tersebut menunjukkan bahwa program zero waste tidak hanya berdampak terhadap kebersihan lingkungan, tetapi juga dapat menghasilkan manfaat ekonomi.

 

Ke depan, pihak sekolah bahkan mempertimbangkan pengadaan mesin peleleh plastik. Mesin tersebut nantinya diharapkan dapat mengolah plastik bekas menjadi berbagai produk yang bisa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, furnitur, hingga perlengkapan kantor.

 

“Jika bisa mengelolanya sendiri secara mandiri, kami jadi tidak perlu membuang sampah ke luar. Namun harga alatnya lumayan mahal, mudah-mudahan ada yang mau dukung memfasilitasi,” harap Veranika.

 

Program SDN Joglo 05 menunjukkan bahwa penerapan zero waste dapat dimulai dari lingkungan sekolah. Dengan melibatkan siswa, guru, orang tua, dan masyarakat, sampah tidak hanya dikurangi, tetapi juga diubah menjadi tabungan, produk kerajinan, kompos, hingga sumber nilai ekonomi.