KesehatanLifestyle

Jangan Anggap Sepele! Kebiasaan Harian Ini Bisa Picu GERD hingga Radang Kerongkongan

5
×

Jangan Anggap Sepele! Kebiasaan Harian Ini Bisa Picu GERD hingga Radang Kerongkongan

Sebarkan artikel ini

Jakarta, Warganet – Gastritis dan GERD tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga dipengaruhi oleh gaya hidup seperti kebiasaan merokok, konsumsi kopi, pola tidur, hingga tingkat stres. Hal itu disampaikan dr. Tirta dalam kanal YouTube TirtaPengPengPeng yang tayang Minggu (2/8).

Menurut dr. Tirta, rokok memiliki hubungan erat dengan gangguan asam lambung karena kandungan nikotin di dalamnya dapat memengaruhi produksi asam lambung.

“Di dalam rokok ada zat namanya nikotin. Salah satu dampaknya adalah sebagai stimulan. Efeknya bisa mengacaukan produksi asam lambung,” ujar dr. Tirta.

Ia menjelaskan, asap rokok yang masuk ke tubuh tidak hanya berdampak pada paru-paru, tetapi juga dapat berpengaruh terhadap sistem pencernaan. Karena itu, kebiasaan merokok menjadi salah satu hal yang ditanyakan dokter ketika menangani pasien dengan keluhan gastritis atau GERD.

Dr. Tirta menegaskan, pertanyaan dokter mengenai kebiasaan pasien bukan sekadar rasa ingin tahu, melainkan untuk mempersempit kemungkinan penyebab penyakit.

“Ketika ada orang gastritis, kita tanya pola tidur bagaimana, pola makan bagaimana, pekerjaan bagaimana, rokok berapa sehari, rokok apa. Itu untuk meminimalisir differential diagnosis,” katanya.

Selain rokok, ia menyebut kopi, pola makan tidak teratur, kurang tidur, stres, dan kecemasan juga dapat berkaitan dengan gangguan produksi asam lambung.

Menurutnya, gangguan biasanya dapat bermula dari dispepsia atau keluhan seperti kembung dan rasa tidak nyaman di perut. Jika tidak terkontrol, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi GERD atau naiknya asam lambung ke kerongkongan.

“Dari GERD kalau tidak terkontrol bisa jadi esofagitis, yaitu radang pada kerongkongan. Kalau radang pada lambung jadi gastritis. Kalau terkena Helicobacter pylori di area pylorus bisa menjadi peptic ulcer,” jelasnya.

Dr. Tirta juga menyoroti pentingnya keseimbangan gaya hidup. Ia mencontohkan dirinya yang tetap bisa mengonsumsi kopi beberapa kali sehari karena memiliki pola tidur yang teratur.

“Saya ngopi sehari empat-lima kali, pagi americano, espresso, cappuccino. Normal saja karena pola tidur teratur,” ujarnya.

Ia mengingatkan, kebiasaan buruk seperti kurang tidur, tekanan pekerjaan, dan pola hidup tidak teratur dapat meningkatkan risiko munculnya gangguan asam lambung.