Jakarta, Warganet – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya membuat pandangan terganggu. Jika berlangsung cukup lama, paparan asap juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan meningkatkan risiko masalah kesehatan, terutama pada saluran pernapasan.
Partikel halus seperti PM2,5 yang terdapat dalam asap karhutla dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), serta memperburuk kondisi orang yang sebelumnya memiliki asma atau penyakit paru.
Karena itu, ketika kabut asap mulai pekat, rutinitas harian perlu sedikit disesuaikan. Berikut beberapa kebiasaan sederhana yang bisa dilakukan untuk membantu mengurangi paparan asap.
1. Kurangi aktivitas di luar rumah
Saat udara dipenuhi asap, sebaiknya aktivitas di luar ruangan dikurangi, terutama olahraga atau kegiatan fisik yang membuat napas menjadi lebih cepat.
Jika tidak ada keperluan mendesak, beraktivitas di dalam ruangan dapat menjadi pilihan yang lebih aman. Kemenkes juga mengimbau masyarakat membatasi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
2. Jangan lupa gunakan masker
Jika harus keluar rumah, gunakan masker yang sesuai untuk membantu mengurangi paparan partikel dari udara tercemar.
Masker sebaiknya digunakan dengan benar dan menutupi hidung serta mulut. Penggunaan masker menjadi semakin penting ketika kondisi udara sedang buruk.
3. Buat rumah senyaman mungkin
Kabut asap tidak hanya berada di luar rumah. Ketika udara di luar buruk, upayakan agar asap dan polutan tidak mudah masuk ke dalam ruangan.
Pintu dan jendela dapat ditutup ketika kondisi udara luar sedang sangat berasap. Hindari pula aktivitas yang menghasilkan asap tambahan di dalam rumah, seperti merokok atau membakar sesuatu.
4. Perbanyak minum air putih
Jangan menunggu haus untuk minum. Memenuhi kebutuhan cairan tubuh dapat membantu menjaga kondisi tubuh selama menghadapi paparan udara yang kurang baik.
Kemenkes memasukkan anjuran untuk lebih banyak dan lebih sering minum air putih sebagai salah satu langkah perlindungan saat terjadi kabut asap.
5. Tetap jaga pola makan dan istirahat
Ketika kabut asap berlangsung berhari-hari, menjaga kondisi tubuh menjadi semakin penting. Konsumsi makanan bergizi, cukup tidur, dan hindari kebiasaan yang dapat memperburuk kondisi tubuh, seperti merokok.
Pola hidup bersih dan sehat juga dianjurkan untuk membantu menjaga daya tahan tubuh selama kualitas udara memburuk.
6. Perhatikan kondisi anak dan anggota keluarga yang rentan
Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta orang yang memiliki asma atau penyakit paru termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak kabut asap.
Karena itu, aktivitas mereka di luar rumah sebaiknya lebih diperhatikan ketika kualitas udara menurun.
7. Jangan abaikan gejala yang muncul
Mata perih dan berair, tenggorokan terasa tidak nyaman, batuk, sakit kepala, hingga kesulitan bernapas dapat muncul ketika seseorang terpapar asap.
Jika keluhan semakin berat atau muncul gangguan pernapasan, jangan menunggu kondisi memburuk. Segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Kabut asap karhutla memang tidak selalu bisa dihindari sepenuhnya, tetapi paparan dapat dikurangi dengan mengubah kebiasaan sehari-hari. Membatasi aktivitas di luar, menggunakan masker, menjaga kualitas udara di dalam rumah, cukup minum, serta memperhatikan kondisi tubuh menjadi langkah sederhana yang penting dilakukan selama kabut asap masih menyelimuti lingkungan.







