Pertanian

Jangan Asal Semprot Pestisida, BRIN Ungkap Cara Efektif Kendalikan Wereng Padi

5
×

Jangan Asal Semprot Pestisida, BRIN Ungkap Cara Efektif Kendalikan Wereng Padi

Sebarkan artikel ini

Klaten, Warganet – Petani diminta tidak sembarangan mengandalkan pestisida untuk mengatasi serangan wereng batang cokelat pada tanaman padi. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penerapan pengendalian hama secara terpadu agar serangan wereng dapat ditekan sekaligus menjaga produktivitas dan mengurangi risiko kerugian.

 

Melansir laman resmi BRIN, Sabtu (8/8), wereng batang cokelat menjadi salah satu ancaman utama bagi produksi padi di Indonesia. Hama ini tidak hanya merusak tanaman secara langsung, tetapi juga menjadi vektor penyebar penyakit virus kerdil rumput dan kerdil hampa.

 

Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Arlyna Budi Pustika, menjelaskan serangan wereng dapat menyebabkan tanaman padi tumbuh kerdil, daun menguning dan layu hingga mengalami hopperburn atau mati kering.

 

Kondisi tersebut berpotensi menurunkan hasil panen secara signifikan.

 

Dalam kegiatan Workshop Pengendalian Hama Wereng Batang Cokelat secara Terpadu di Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Kamis (6/8/2026), Arlyna menyebut kehilangan hasil pertanian akibat serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) rata-rata mencapai sekitar 30 persen dari potensi hasil.

 

Sementara itu, kehilangan hasil akibat serangan hama berada di kisaran 20–25 persen.

 

Serangan wereng batang cokelat bahkan pernah meluas hingga ratusan ribu hektare lahan di Indonesia. Dampaknya, kehilangan produksi dapat mencapai 1–2 ton gabah per hektare dan menimbulkan kerugian ekonomi hingga triliunan rupiah.

 

Menurut Arlyna, perkembangan populasi wereng dipengaruhi berbagai faktor. Di antaranya berkurangnya penerapan konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), penanaman padi secara terus-menerus, penggunaan pestisida yang tidak tepat, pemilihan varietas yang tidak sesuai hingga menurunnya populasi musuh alami.

 

Penggunaan insektisida secara berlebihan juga justru dapat menimbulkan masalah baru. Wereng dapat mengalami resistensi sehingga efektivitas pestisida semakin menurun.

 

Selain itu, pola tanam yang tidak serempak membuat sumber makanan bagi wereng selalu tersedia. Kondisi tersebut memungkinkan populasi hama terus berkembang.

 

Karena itu, BRIN mendorong petani menerapkan strategi pengendalian secara terpadu. Cara tersebut tidak hanya mengandalkan bahan kimia, tetapi menggabungkan sejumlah metode sesuai kondisi di lapangan.

 

Beberapa langkah yang direkomendasikan antara lain tanam serempak, rotasi tanaman, penggunaan varietas padi tahan wereng, pemantauan populasi secara berkala serta pemanfaatan agensia hayati sejak dini.

 

BRIN juga menyebut Metarhizium anisopliae dan Beauveria bassiana sebagai agensia hayati yang dapat dimanfaatkan dalam pengendalian wereng.

 

Sementara itu, penggunaan insektisida kimia disarankan menjadi pilihan terakhir ketika populasi hama telah melampaui ambang ekonomi.

 

Arlyna menekankan bahwa waktu pengendalian menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan mengatasi wereng. Pemantauan populasi perlu dilakukan secara berkala melalui lampu perangkap maupun pengamatan langsung di lahan.

 

Dengan pemantauan tersebut, petani dapat mengambil tindakan sejak awal sebelum populasi wereng berkembang menjadi generasi berikutnya yang lebih sulit dikendalikan.

 

Selain strategi pengendalian, BRIN merekomendasikan penggunaan sejumlah varietas padi yang memiliki ketahanan terhadap wereng batang cokelat, di antaranya Inpari 47 WBC, Inpari Gemah, Inpari 48 Blas, Inpari Digdaya, dan Inpari 45 Dirgahayu.

 

Penggunaan varietas tahan dinilai dapat membantu menekan risiko serangan sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia.

 

Dalam kegiatan tersebut, BRIN juga memperkenalkan YUKE-WBC, yakni Program Komputer Pengidentifikasi Wereng Batang Cokelat. Teknologi tersebut merupakan produk riset tim yang telah didaftarkan sebagai hak cipta.

 

Dengan penerapan pengendalian hama secara terpadu, BRIN berharap petani dapat menjaga tanaman padi dari ancaman wereng sekaligus mempertahankan produktivitas pertanian secara berkelanjutan.