Jakarta, Warganet – Stroke merupakan kondisi medis yang dapat terjadi secara mendadak dan membutuhkan penanganan secepat mungkin. Dokter Spesialis Neurologi Prof. Dr. dr. Rizaldy Taslim Pinzon, Sp.S, M.Kes, mengingatkan masyarakat untuk tidak menunggu gejala membaik ketika muncul tanda-tanda yang mengarah pada stroke.
Menurut Prof. Rizaldy, stroke pada dasarnya tidak memiliki tanda peringatan dini yang pasti. Kondisi tersebut bersifat katastropik dan dapat muncul secara tiba-tiba. Karena itu, masyarakat justru perlu mengenali faktor risiko stroke dan gejala yang harus segera ditindaklanjuti.
Hal tersebut disampaikan Prof. Rizaldy dalam podcast yang ditayangkan melalui kanal YouTube @FKKMKUGMOffical dan @TirtaPengPengPeng, Senin (24/8/2026).
Ia menyebut sejumlah faktor risiko stroke yang perlu diwaspadai, di antaranya hipertensi, diabetes, dislipidemia, kadar LDL tinggi, kebiasaan merokok, serta obesitas sentral.
“Yang paling sering sih hipertensi, diabetes, dislipidemia, LDL yang tinggi, smoking, obesitas sentral,” ujar Prof. Rizaldy.
Menurutnya, mengetahui faktor risiko menjadi langkah penting karena sebagian besar faktor tersebut dapat dikendalikan. Salah satunya adalah hipertensi yang sering tidak menimbulkan gejala sehingga banyak orang tidak menyadari tekanan darahnya sudah tinggi.
Pengendalian faktor risiko dapat dilakukan melalui perubahan gaya hidup maupun pengobatan apabila diperlukan. Mengurangi konsumsi garam, rutin berolahraga, menurunkan berat badan, serta memperbanyak konsumsi buah dan sayur menjadi beberapa langkah yang dapat dilakukan.
Golden Hour Stroke 4,5 Jam
Ketika gejala stroke muncul, kecepatan membawa pasien ke rumah sakit menjadi sangat penting. Prof. Rizaldy menjelaskan, patokan waktu yang masih digunakan untuk penanganan stroke iskemik tertentu adalah sekitar 4,5 jam sejak gejala muncul.
Kemajuan teknologi pencitraan otak memang memungkinkan dokter memperpanjang peluang penanganan pada sebagian pasien tertentu. Namun, masyarakat tetap dianjurkan tidak menunggu dan segera mencari pertolongan medis.
“Sekarang itu patokan yang dipakai tetap empat setengah jam. Jadi begitu gejala muncul itu empat setengah jam,” jelasnya.
Prof. Rizaldy mengatakan perkembangan teknologi pencitraan membuat penanganan stroke kini tidak semata-mata bergantung pada waktu. Dokter juga dapat melihat kondisi jaringan otak untuk menentukan apakah masih ada jaringan yang dapat diselamatkan.
Pada pasien tertentu, tindakan seperti trombolisis maupun trombektomi dapat dipertimbangkan sesuai kondisi dan hasil pemeriksaan.
Meski demikian, prinsip yang harus dipahami masyarakat tetap sama, yakni time is brain.
“Begitu ada gejala yang dicurigai stroke, curiga stroke itu kan berarti perot, pelo, lumpuh separuh, lupa, buta mendadak itu segera ke rumah sakit,” tegasnya.
Kenali Gejala Stroke
Gejala stroke dapat berupa wajah mencong atau tidak simetris, bicara menjadi pelo atau sulit berbicara, kelumpuhan atau kelemahan pada salah satu sisi tubuh, gangguan penglihatan mendadak, hingga gangguan neurologis lain yang muncul tiba-tiba.
Prof. Rizaldy mengingatkan, masyarakat tidak perlu menunggu sampai yakin bahwa kondisi tersebut benar-benar stroke sebelum mencari pertolongan.
Jika setelah diperiksa ternyata gejala tersebut bukan stroke, hal itu tetap lebih baik daripada terlambat mendapatkan penanganan.
“Masalah nanti di rumah sakit lalu dikatakan oh ini bukan stroke, misalnya ini hanya gangguan saraf tepi yang disebut Bell’s palsy, ya enggak apa-apa. Tapi berarti enggak kecolongan,” katanya.
Karena itu, pasien dengan gejala yang dicurigai stroke sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit yang memiliki fasilitas pemeriksaan memadai, minimal CT scan.
Pemeriksaan tersebut penting untuk membedakan apakah stroke yang dialami merupakan stroke iskemik akibat sumbatan pembuluh darah atau stroke hemoragik akibat perdarahan. Keduanya membutuhkan penanganan yang berbeda.







