Ekonomi Dan Bisnis

Harga Ayam Tembus Rp40 Ribu per Kg, Pemkot Bandung Kejar Penyebab Kenaikan Harga

11
×

Harga Ayam Tembus Rp40 Ribu per Kg, Pemkot Bandung Kejar Penyebab Kenaikan Harga

Sebarkan artikel ini

Bandung, Warganet – Harga daging ayam di Kota Bandung menembus Rp40 ribu per kilogram. Kenaikan tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung karena ayam merupakan salah satu sumber protein utama bagi masyarakat.

 

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, dari sejumlah komoditas pangan yang dipantau, daging ayam menjadi komoditas dengan persoalan harga paling menonjol.

 

Melansir Portal Bandung, Kamis (27/8/2026), Farhan menyebut harga daging ayam saat ini telah berada di atas Rp40 ribu per kilogram. Kondisi tersebut dinilai perlu segera ditelusuri untuk mengetahui faktor yang menyebabkan kenaikan harga.

 

“Yang bermasalah saat ini harus diakui adalah harga daging ayam. Daging ayam ini penting karena daging ayam adalah sumber protein kedua terbesar untuk warga Kota Bandung setelah telur ayam,” ujar Farhan saat ditemui di Kelurahan Antapani Tengah, Kamis (27/8/2026).

 

Farhan mengatakan, kondisi harga telur ayam masih relatif terjaga. Sementara kenaikan harga daging ayam diduga berkaitan dengan persoalan distribusi di tingkat hulu.

 

Untuk memastikan penyebabnya, Farhan telah menginstruksikan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung untuk menelusuri rantai pasok daging ayam.

 

“Saya sudah memerintahkan kepada Dinas Perdagangan dan Perindustrian untuk melacak kenapa daging ayam bisa naik sampai di atas harga Rp40.000,” katanya.

 

Kenaikan harga ayam juga mulai berdampak terhadap pola konsumsi masyarakat. Farhan mengatakan, warga yang sebelumnya dapat mengonsumsi ayam setiap hari kini mulai mengurangi frekuensi pembelian.

 

“Kelihatan banyak yang mengangguk-angguk di sini karena tiba-tiba yang biasanya tiap hari bisa makan ayam, sekarang seminggu tiga kali. Jadi kita akan upayakan supaya ayam bisa terjangkau lagi harganya,” ujarnya.

 

Pasokan Beras Masih Aman

Di tengah kenaikan harga ayam, Farhan memastikan ketersediaan beras di Kota Bandung masih aman. Ia mengingatkan masyarakat agar melihat kondisi stok secara keseluruhan, termasuk pasokan yang dijamin melalui Perum Bulog.

 

Menurut Farhan, sekitar 30 persen distribusi beras dijamin oleh Bulog sehingga pasokan tersebut dapat diakses masyarakat Kota Bandung.

 

“Sekitar 30 persen beras ini dijamin oleh Bulog akan bisa didapatkan untuk semua warga Kota Bandung. Tetapi jangan memilih kualitasnya. Kalau mau memilih kualitasnya, ikut mekanisme pasar,” jelasnya.

 

Ia menjelaskan, masyarakat yang menginginkan jenis atau kualitas beras tertentu harus mengikuti mekanisme pasar karena tidak seluruh jenis beras masuk dalam skema distribusi yang dijamin Bulog.

 

Sementara itu, kebutuhan pangan Kota Bandung juga ditopang pasokan dari luar daerah. Farhan menyebut terdapat sekitar 16 provinsi yang memasok kebutuhan pangan masyarakat Kota Bandung.

 

“Pasokan-pasokan lainnya dari luar kota ada 16 provinsi yang memasok ke Kota Bandung, yang sekarang agak tersendat hanya masalah daging ayam saja,” katanya.

 

Daging Sapi Masih Bergantung Impor

 

Selain ayam, Pemkot Bandung juga menyoroti persoalan pasokan daging sapi. Farhan mengatakan pemerintah daerah akan mengikuti arahan pemerintah pusat untuk mendorong penguatan pasokan daging sapi dari dalam negeri.

 

Menurutnya, sekitar 98 persen kebutuhan daging sapi di Kota Bandung masih berkaitan dengan pasokan impor, baik dari sisi pembibitan maupun daging beku.

 

“Kalau pangan lainnya, seperti arahan Presiden, kita akan membantu mendorong agar yang namanya daging sapi tidak impor lagi,” tuturnya.

 

Pemkot Bandung akan terus memantau harga dan ketersediaan berbagai komoditas pangan. Perhatian terutama diarahkan pada bahan pangan yang berpengaruh langsung terhadap kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari.

 

Dengan harga ayam yang telah menembus Rp40 ribu per kilogram dan mulai memengaruhi pola konsumsi warga, penelusuran rantai pasok diharapkan dapat menemukan penyebab kenaikan sekaligus menjadi dasar bagi pemerintah dalam mengambil langkah untuk menjaga keterjangkauan harga.