Peristiwa

Kebakaran Muara Angke, 131 Warga Mengungsi dan Layanan Dasar Tetap Berjalan

9
×

Kebakaran Muara Angke, 131 Warga Mengungsi dan Layanan Dasar Tetap Berjalan

Sebarkan artikel ini

Jakarta, Warganet – 131 warga terdampak kebakaran di Muara Angke, Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, masih bertahan di lokasi pengungsian. Pemerintah memastikan kebutuhan dasar dan pelayanan publik bagi para penyintas tetap berjalan di tengah kondisi pascakebakaran.

Melansir laman resmi Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara, Jumat (28/8/2026), kebakaran yang terjadi pada Rabu (26/8) malam tersebut berdampak terhadap 46 kepala keluarga dengan jumlah 131 jiwa, terdiri dari 64 laki-laki dan 67 perempuan.

Para penyintas saat ini menempati dua lokasi pengungsian, yakni halaman depan Musholla Sirojul Muslimin dan lapangan RT 011 RW 022 Muara Angke.

Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara bersama Forum Koordinasi Pimpinan Kota (Forkopimko), Dharma Wanita Persatuan (DWP), Tim Penggerak PKK, Baznas Bazis, serta sejumlah pemangku kepentingan mendatangi lokasi pengungsian untuk memastikan kondisi warga dan kebutuhan mereka tetap terlayani.

Wali Kota Administrasi Jakarta Utara, Hendra Hidayat, mengatakan pemerintah berupaya memastikan warga tidak menghadapi dampak kebakaran seorang diri. Pelayanan dasar menjadi salah satu perhatian utama selama warga berada di pengungsian.

“Hari ini, saya bersama rekan-rekan Forkopimko Jakarta Utara, PKK, DWP, dan semua yang peduli terhadap saudara-saudara kita yang terkena musibah di Muara Angke ingin memastikan pelayanan publik berjalan untuk memulihkan kebutuhan dasar warga melalui posko utama yaitu kesehatan, pendidikan, dukcapil, dan sosial,” ujar Hendra.

Selain kebutuhan sehari-hari, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap dokumen penting milik warga yang ikut terbakar dalam musibah tersebut.

Dalam kunjungannya, Hendra menyerahkan KTP dan kartu keluarga (KK) milik salah seorang penyintas yang telah selesai diproses penggantiannya.

Warga yang kehilangan dokumen kependudukan maupun dokumen pendidikan juga dapat mengurus penggantiannya melalui posko pelayanan yang tersedia di lokasi pengungsian.

“Kepengurusan penggantian ijazah yang terbakar dan dokumen kependudukan lainnya bisa dilakukan di posko yang tersedia,” jelas Hendra.

Langkah tersebut menjadi penting bagi warga karena banyak dokumen berharga tidak sempat diselamatkan ketika kebakaran terjadi.

Salah seorang penyintas, Ade, mengaku saat api mulai melalap rumahnya, hal pertama yang dipikirkannya adalah menyelamatkan anak-anak.

Warga yang telah sembilan tahun tinggal di Muara Angke itu mengatakan dirinya tidak sempat membawa dokumen seperti KTP, KK, dan akta ketika menyelamatkan diri.

“Saat terjadi kebakaran saya sedang di rumah, tapi karena panik tidak sempat membawa apa pun, apalagi KTP, KK, Akte, dan lain-lain. Jadi yang utama diselamatkan adalah anak-anak yang langsung saya bawa keluar,” kata Ade.

Kini, Ade harus menghadapi kehilangan tempat tinggal dan menjalani hari-hari di tenda pengungsian. Kondisinya semakin berat karena ia juga tengah menanti kelahiran buah hatinya yang dijadwalkan pada Senin mendatang.

“Rumah terbakar dan saya tidak tahu lagi nanti mau tinggal di mana, apalagi nanti hari Senin saya akan melahirkan. Sekarang saya masih tinggal di tenda pengungsian,” ungkapnya.

Meski kehilangan rumah, Ade bersyukur kebutuhan dasar para penyintas di pengungsian masih terpenuhi. Bantuan dari berbagai pihak terus berdatangan, terutama untuk memenuhi kebutuhan makanan.

“Alhamdulillah di sini ada saja bantuan yang datang, termasuk kebutuhan makanan sangat tercukupi. Terima kasih atas kepeduliannya kepada kami di Muara Angke,” tuturnya.

Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara memastikan pelayanan bagi para penyintas terus dilakukan selama masa pemulihan. Tidak hanya bantuan kebutuhan sehari-hari, layanan kesehatan, pendidikan, kependudukan, dan sosial juga disiapkan melalui posko.

Dengan adanya layanan tersebut, warga yang kehilangan rumah maupun dokumen penting akibat kebakaran diharapkan tetap dapat memenuhi kebutuhan administrasi dan mendapatkan pelayanan dasar.

Kebakaran Muara Angke menjadi ujian berat bagi puluhan keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Namun, kehadiran pemerintah dan bantuan dari berbagai pihak diharapkan dapat membantu para penyintas melewati masa pemulihan.