Jakarta Timur, Warganet – Daun kering yang biasanya berakhir menjadi sampah dimanfaatkan Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, menjadi pupuk organik untuk mendukung kegiatan urban farming.
Pemanfaatan limbah organik tersebut dilakukan bersamaan dengan pengembangan lahan pertanian di halaman Kantor Kelurahan Pinang Ranti. Langkah ini menjadi upaya memanfaatkan lahan perkotaan secara produktif sekaligus mendukung ketahanan pangan dan menjaga kebersihan lingkungan.
Dalam panen terbaru, Kelurahan Pinang Ranti menghasilkan sejumlah komoditas, di antaranya 1 kilogram terong bulat, 2 kilogram terong ungu, 3 kilogram cabai hijau, 1 kilogram pare, tiga buah labu air, 5 kilogram lengkuas, dan 5 kilogram sereh.
Hasil panen tersebut kemudian dibawa ke Kantor Wali Kota Administrasi Jakarta Timur untuk dipasarkan melalui kegiatan bazar atau pasar tumbuh, Rabu (26/8/2026).
Melansir portal resmi Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur, Lurah Pinang Ranti Nani Yuslina mengatakan urban farming menjadi salah satu cara memanfaatkan lahan yang tersedia secara produktif sekaligus mendukung ketahanan pangan di wilayah perkotaan.
“Dalam panen kali ini, kami menghasilkan berbagai komoditas, mulai dari terong, cabai, pare, labu air, lengkuas hingga sereh,” kata Nani.
Menurutnya, hasil panen tersebut tidak hanya menunjukkan pemanfaatan lahan secara optimal, tetapi juga memiliki nilai ekonomi karena dapat dipasarkan melalui bazar atau pasar tumbuh tingkat kota.
Di sisi lain, Kelurahan Pinang Ranti mengembangkan pengolahan limbah organik dari daun-daun kering yang dikumpulkan petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) dari kegiatan penyapuan jalan di wilayah kelurahan.
Daun kering yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah tersebut diolah kembali menjadi pupuk organik. Pupuk yang dihasilkan kemudian digunakan untuk mendukung pertumbuhan tanaman dalam kegiatan urban farming di halaman kantor kelurahan.
“Daun-daun kering hasil penyapuan jalanan oleh PPSU kami manfaatkan dan olah menjadi pupuk organik,” paparnya.
Tak hanya digunakan sendiri, pupuk organik tersebut juga memiliki potensi untuk dijual kepada masyarakat. Dengan demikian, pengelolaan limbah sekaligus membuka peluang nilai ekonomi dari sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai sampah.
Nani berharap pengembangan urban farming dan pengolahan limbah organik dapat dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, kedua kegiatan tersebut memberikan manfaat sekaligus, mulai dari mendukung ketahanan pangan, menjaga kebersihan lingkungan hingga meningkatkan nilai ekonomi.
“Dengan memanfaatkan lahan dan mengolah limbah organik menjadi pupuk, kami berharap kegiatan ini terus berkembang dan memberikan manfaat bagi lingkungan maupun masyarakat,” pungkasnya.
Upaya Kelurahan Pinang Ranti menunjukkan bahwa lahan terbatas di kawasan perkotaan tetap dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan. Di saat yang sama, limbah daun kering dapat diolah kembali menjadi sumber nutrisi bagi tanaman sehingga tidak berakhir sebagai sampah.







