Teknologi

Tak Disangka, Sabut Kelapa yang Kerap Dibuang Ini Disulap Mahasiswa UGM Jadi Briket Bernilai

2
×

Tak Disangka, Sabut Kelapa yang Kerap Dibuang Ini Disulap Mahasiswa UGM Jadi Briket Bernilai

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta, Warganet – Sabut kelapa yang selama ini kerap dianggap sebagai limbah ternyata bisa diolah menjadi produk bernilai ekonomi. Inovasi itu ditunjukkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) yang mengembangkan briket dari sabut kelapa di Kecamatan Srono, Banyuwangi, Jawa Timur.

 

Selain mengolah limbah sabut kelapa menjadi briket, mahasiswa KKN UGM juga memasang delapan lampu tenaga surya di Desa Wonosobo dan Rejoagung sebagai penerangan jalan. Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan keselamatan warga sekaligus mendorong pemanfaatan energi ramah lingkungan.

 

Melansir situs resmi Universitas Gadjah Mada (UGM), pengembangan briket dilakukan setelah mahasiswa melihat banyaknya limbah sabut kelapa yang belum dimanfaatkan masyarakat. Padahal, limbah tersebut berpotensi menjadi bahan bakar alternatif yang memiliki nilai ekonomis.

 

Koordinator Mahasiswa KKN di Wonosobo, Layla Oktavia, mengatakan pemanfaatan sabut kelapa menjadi briket bertujuan memberikan pengetahuan baru kepada masyarakat agar limbah yang selama ini dibuang dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat.

 

«”Dari warga mungkin serabut kelapanya cuma dibuang gitu aja. Jadi enggak dimanfaatkan. Jadi kita memanfaatkan buat ngasih tahu ke warga bahwa sebenarnya serabut kelapa ini bisa dipakai yang lebih bermanfaat. Bisa dijadikan nilai ekonomis juga, dijadikan briket seperti itu buat pengganti arang juga,” ujarnya.»

 

Layla menjelaskan, proses pembuatan briket diawali dengan membakar sabut kelapa hingga menjadi arang. Arang tersebut kemudian dihaluskan menjadi serbuk, lalu dicampur tepung kanji sebagai perekat sebelum dicetak menjadi briket berbentuk kubus kecil. Menurutnya, selain sabut kelapa, bahan baku briket juga dapat berasal dari abu bambu maupun material organik lainnya.

 

Program KKN UGM di Kecamatan Srono tidak hanya berfokus pada pengolahan limbah. Sebanyak 28 mahasiswa juga memasang delapan lampu tenaga surya di sejumlah titik di Desa Wonosobo dan Rejoagung untuk membantu mengatasi minimnya penerangan jalan pada malam hari.

 

Direktur Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Dr. Rustamaji, mengapresiasi berbagai program kerja mahasiswa KKN yang dinilai mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Ia menyebut pada periode antarsemester tahun ini UGM menerjunkan 8.178 mahasiswa KKN yang tersebar di 32 provinsi, dengan mayoritas program mengusung tema ketahanan pangan dan mitigasi perubahan iklim.

 

Rustamaji juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, pemerintah desa, dan seluruh mitra yang telah mendukung pelaksanaan KKN. Menurutnya, hasil evaluasi hingga saat ini menunjukkan seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan baik dan memberikan manfaat bagi masyarakat.