Palembang, Warganet – Aku adalah sisa dari kehidupan sehari-hari, dari dapur rumah, aku lahir. Kadang berupa sisa makanan, plastik, hingga kaleng bekas yang dianggap tak lagi berguna.
Dulu, aku sering dibuang begitu saja. Tak dipikirkan lagi, aku berakhir di tong sampah, bahkan masuk selokan dan sungai. Aku dianggap kotor, tidak bernilai.
Namun perlahan, cara manusia melihatku berubah.
Kini, aku tidak selalu berakhir sebagai limbah. Sisa makanan bisa menjadi kompos, plastik bisa didaur ulang, dan sebagian dariku bahkan berubah menjadi peluang ekonomi melalui bank sampah dan usaha kreatif.
Dari sesuatu yang dulu dianggap akhir, aku mulai punya “kehidupan kedua”.
Perubahan ini tidak terjadi sendirian. Di berbagai daerah, termasuk Palembang, aku mulai diperlakukan berbeda.
Kota Palembang kini bahkan disebut sebagai salah satu daerah yang serius mengembangkan sistem pengolahan sampah modern di Indonesia. Pemerintah kota terus memperkuat arah kebijakan pengelolaan sampah berbasis energi melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
Meski proyek ini sudah berjalan dalam tahapan pengembangan sebelumnya, Pemkot Palembang kini kembali menegaskan percepatan realisasinya sebagai bagian dari solusi jangka panjang pengurangan sampah kota.
Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, baru-baru ini menegaskan pengelolaan sampah tidak bisa lagi hanya mengandalkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi harus masuk ke sistem energi.
Menurutnya, PLTSa ditargetkan mampu mengolah sebagian besar dari sekitar 1.200 ton sampah harian dan mengubahnya menjadi listrik hingga 20 megawatt.
Lebih dari sekadar proyek infrastruktur, langkah ini juga menunjukkan perubahan pendekatan: sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, tetapi sebagai sumber daya.
Pemerintah Kota Palembang juga mendorong integrasi sistem mulai dari hulu hingga hilir, termasuk penguatan bank sampah di tingkat kelurahan serta peningkatan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari rumah.
Dari total 107 kelurahan, hampir seluruhnya kini telah memiliki bank sampah yang menjadi bagian penting dalam mengurangi volume sampah sebelum masuk ke fasilitas utama.
Di sisi lain, Dinas Lingkungan Hidup Kota Palembang menegaskan bahwa pengolahan di PLTSa akan menggunakan teknologi pembakaran suhu tinggi dengan sistem kontrol emisi ketat, sehingga tetap sesuai standar lingkungan.
Langkah ini menerangkan Palembang bukan hanyamembangun proyek, tetapi sedang membangun arah baru menjadikan sampah sebagai bagian dari sistem energi kota.
Oleh sebab itu, dari sesuatu yang dulu dibuang tanpa makna, sampah kini perlahan berubah menjadi bagian dari solusi besar. Palembang menjadi salah satu contoh bagaimana perubahan cara pandang bisa mengubah masalah lama menjadi energi masa depan.(***)/one







