Ekonomi Dan Bisnis

UMKM Bisa Naik Kelas Bukan Karena Modal Besar, Tapi karena Strategi dan Pendampingan

2
×

UMKM Bisa Naik Kelas Bukan Karena Modal Besar, Tapi karena Strategi dan Pendampingan

Sebarkan artikel ini

Jakarta, Warganet – Selama ini permodalan kerap dianggap sebagai tantangan terbesar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, Kementerian UMKM menilai keberhasilan sebuah usaha justru sangat ditentukan oleh kualitas pendampingan sejak tahap merintis bisnis hingga mampu berkembang dan bersaing di pasar.

Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM, Riza Damanik, mengatakan banyak masyarakat memiliki ide usaha yang potensial. Namun, tidak sedikit yang gagal mengembangkan bisnisnya karena belum memperoleh pembinaan yang memadai.

Menurutnya, pelaku usaha yang mengikuti program inkubasi memiliki peluang bertahan dan berkembang lebih besar dibandingkan mereka yang membangun usaha tanpa pendampingan.

“Melalui lembaga inkubator, calon wirausaha dapat memperoleh pendampingan, akses pembiayaan, pemasaran, sertifikasi, dan standardisasi yang dibutuhkan untuk memperkuat ekosistem kewirausahaan,” kata Riza dalam Talkshow UMKM Insight di Jakarta.

Ia menjelaskan, penguatan lembaga inkubator menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperluas jumlah wirausaha nasional sekaligus meningkatkan kualitas UMKM agar mampu naik kelas menuju target 10 juta wirausaha baru pada 2029.

Menurut Riza, keberadaan inkubator, termasuk yang berada di lingkungan perguruan tinggi, memiliki peran penting dalam mendampingi pelaku usaha sejak tahap perencanaan bisnis, pengembangan produk, hingga memasuki pasar. Pendampingan tersebut juga diharapkan mendorong lahirnya inovasi dan pemanfaatan teknologi yang mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya lokal.

Untuk memperluas dampak program tersebut, Kementerian UMKM mengintegrasikan layanan pendampingan dengan berbagai program prioritas, seperti Bursa Wirausaha Unggulan dan Program Kesejahteraan Produktif (Pro-Kesra Produktif).

Melalui Bursa Wirausaha Unggulan, pelaku usaha mendapatkan akses pelatihan, peningkatan kapasitas bisnis, legalitas usaha, sertifikasi produk, pengelolaan keuangan, hingga fasilitasi pembiayaan dan pemasaran dalam satu ekosistem pembinaan.

Sementara itu, Program Kesejahteraan Produktif difokuskan pada pemberdayaan masyarakat melalui pendampingan usaha mulai dari tahap pra-produksi hingga pasca-produksi dengan sasaran kelompok masyarakat pada desil lima hingga sepuluh.

Kementerian UMKM juga tengah mengembangkan layanan digital melalui platform SAPA UMKM. Platform tersebut akan mengintegrasikan proses pendampingan inkubasi sehingga pelaku usaha di berbagai daerah dapat mengakses layanan pembinaan secara lebih mudah, cepat, dan merata.

Selain memperluas akses layanan, pemerintah terus meningkatkan kualitas lembaga inkubator melalui penerapan standar pelatihan, sistem penilaian, serta pemeringkatan lembaga inkubator untuk memastikan kualitas pendampingan semakin baik.

Dalam kesempatan yang sama, Head of BINUS Incubator Aloysius Bernanda Gunawan menilai minat berwirausaha perlu dibangun sejak bangku pendidikan. Menurutnya, generasi muda memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi sehingga membutuhkan pendampingan agar ide bisnis yang dimiliki dapat berkembang menjadi usaha yang berdaya saing.

Ia mengatakan proses inkubasi membantu calon pengusaha menyusun model bisnis, mengembangkan prototipe, hingga menyempurnakan produk sebelum dipasarkan secara lebih luas.

Sementara itu, Founder Kasisolusi Deryansha Azhary menilai pelatihan kewirausahaan saat ini harus lebih aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan dunia usaha. Selain kemampuan teknis, pelaku UMKM juga perlu menguasai komunikasi bisnis, literasi digital, serta personal branding agar mampu bersaing di era digital.

Menurut Deryansha, kehadiran platform SAPA UMKM membuka peluang pemerataan layanan pendampingan sehingga pelaku usaha di berbagai daerah memiliki kesempatan yang sama untuk mengembangkan usahanya tanpa harus bergantung pada pembinaan di kota-kota besar. (***) one/umkm.go.id