Jakarta, Warganet – Chef Juna Rorimpandey akhirnya angkat bicara mengenai anggapan sebagian orang yang menilai dirinya terlalu tegas bahkan terkesan galak saat menjadi juri kompetisi memasak. Menurutnya, sikap tersebut lahir dari pengalaman panjang yang ditempanya selama berkarier di dunia kuliner.
Hal itu diungkapkan Chef Juna saat berbincang di kanal YouTube C8 Podcast, Minggu (26/7). Ia menegaskan bahwa dirinya memulai karier dari bawah dan harus melewati proses yang tidak mudah selama bekerja di Amerika Serikat.
“Ini yang orang sampai sekarang bilang, ‘Wah jahat banget jadi juri, ketus banget, kayak yang paling jago.’ Ah pret!” ujar Chef Juna.
Chef Juna mengatakan, selama 13 tahun berkarier di Amerika, ia tidak langsung menjadi koki. Berbagai pekerjaan berat di dapur harus dijalaninya, mulai dari membersihkan toilet, menggosok lemak dan minyak di area dapur, mengepel lantai, hingga membersihkan ruang pendingin berukuran besar yang licin dan bersuhu sangat dingin.
“Saya 13 tahun mulai dari nol. Sikat-sikat WC, tutup kitchen gosok-gosok minyak, grease mesin segala macam, mop the floor. Belum lagi dua minggu sekali defrost walk-in freezer. Dinginnya minta ampun, licin, jatuh, ya harus dibersihin,” katanya.
Ia juga menceritakan pengalaman saat menempuh pendidikan. Menurutnya, selain harus membayar biaya pendidikan yang tidak murah, ia juga menjalani pelatihan dengan disiplin yang sangat keras.
“Saya sekolah, kuliah, bayar mahal. Dipelonco, diinjak-injak, diludahin, dipukul, dipermalukan. Bayar loh sekolah,” ungkapnya.
Karena itu, ia merasa wajar jika dirinya bersikap tegas kepada para peserta kompetisi memasak. Ia menilai peserta MasterChef hanya mengikuti kompetisi dalam waktu singkat, tetapi berkesempatan mengubah nasib dan meraih popularitas apabila berhasil menjadi juara.
“Mereka cuma kompetisi masak tiga bulan, terus menang dapat gelar MasterChef. Nasibnya berubah, punya nama, apalagi sekarang ada media sosial. Masa kita enggak boleh menjalani tugas kita dengan tegas?” ujarnya.







