PertanianTeknologi

Benih Bawang Putih Sehat Bisa Ubah Masa Depan Petani, Ini Inovasi BRIN dan UGM

3
×

Benih Bawang Putih Sehat Bisa Ubah Masa Depan Petani, Ini Inovasi BRIN dan UGM

Sebarkan artikel ini

Jogyakarta, Warganet – Ketersediaan benih bawang putih sehat menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan produktivitas bawang putih nasional. Melihat tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan teknologi produksi benih bawang putih sehat dan bermutu yang diharapkan mampu memperkuat sektor pertanian Indonesia.

 

Melansir situs resmi BRIN, pengembangan teknologi ini dilakukan melalui Pusat Riset Hortikultura BRIN bersama Fakultas Pertanian UGM dalam Program Riset dan Inovasi Strategis (PRIS) bertajuk Pengembangan Varietas Unggul Bawang Putih Umbi Besar dan Adaptif Suhu Tinggi.

 

Selama ini, petani masih banyak menggunakan siung bawang sebagai benih melalui perbanyakan vegetatif. Metode tersebut berisiko mempertahankan dan mengakumulasi virus serta patogen lain dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga kualitas benih dan produktivitas tanaman dapat terus menurun.

 

Kepala Pusat Riset Hortikultura BRIN sekaligus penanggung jawab PRIS bawang putih, Dwinita Wikan Utami, mengatakan pengembangan teknologi benih sehat menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas bahan tanam bawang putih.

 

“Melalui riset ini, kami berupaya menghadirkan teknologi yang dapat membantu menghasilkan bahan tanam bawang putih berkualitas dan mendukung kemandirian produksi nasional,” kata Dwinita.

 

Riset tersebut mencakup pengembangan metode eliminasi virus, perancangan prototipe alat eliminasi virus, serta pengujian pengaruh perlakuan terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman bawang putih.

 

Tim peneliti juga melakukan identifikasi terhadap keberadaan virus pada bahan tanam bawang putih. Hasil pengujian Universitas Gadjah Mada menemukan infeksi ganda Onion yellow dwarf virus (OYDV) dan Shallot latent virus (SLV) pada sekitar 80 persen sampel yang berasal dari umbi benih, umbi konsumsi, serta daun bergejala maupun tanpa gejala.

 

Sampel tersebut dikumpulkan dari sejumlah wilayah sentra bawang putih, seperti Enrekang, Magelang, Temanggung, Tawangmangu, dan Yogyakarta.

 

Pakar virologi tumbuhan Fakultas Pertanian UGM, Sedyo Hartono, menjelaskan bahwa gejala infeksi virus tidak selalu terlihat jelas pada tanaman. Kondisi tersebut membuat keberadaan virus berpotensi sulit dikenali di lapangan.

 

Melalui inovasi teknologi eliminasi virus ini, BRIN dan UGM berharap dapat menyediakan benih bawang putih sehat yang mampu meningkatkan produktivitas petani sekaligus mendukung upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor.

 

Riset ini direncanakan berlangsung selama dua tahun. Tahap awal difokuskan pada validasi metode dan pengembangan prototipe alat eliminasi virus skala laboratorium, kemudian dilanjutkan dengan pengujian lapangan serta pengembangan bersama mitra industri.

 

Selain teknologi benih sehat, program riset bawang putih juga mencakup pengembangan varietas unggul berumbi besar, varietas adaptif dataran menengah, teknologi pematahan dormansi, basis data plasma nutfah, serta standar operasional produksi benih sehat dan bermutu.

 

Kolaborasi BRIN, UGM, IPB University, Institut Teknologi Bandung, dan Institut Teknologi Del diharapkan mampu memperkuat sistem perbenihan nasional serta membuka peluang bagi Indonesia meningkatkan kemandirian produksi bawang putih.