Kesehatan

Metabolisme Melambat Saat Tua? Dokter Ungkap Faktor yang Justru Bisa Kamu Kendalikan

8
×

Metabolisme Melambat Saat Tua? Dokter Ungkap Faktor yang Justru Bisa Kamu Kendalikan

Sebarkan artikel ini

Jakarta, Warganet  – Banyak orang menganggap pertambahan usia otomatis membuat metabolisme tubuh melambat drastis. Anggapan tersebut ternyata tidak sesederhana itu. Menurut dokter spesialis gizi klinik, dr. Metta Satyani, Sp.GK, faktor usia memang berpengaruh terhadap metabolisme, tetapi ada faktor lain yang justru dapat dikendalikan, salah satunya massa otot.

 

“Jadi faktor U itu memegang peran, ada betul tapi kecil,” ujar dr. Metta dalam video yang diunggah akun YouTube @MalakaProjectid, Selasa (11/8/2026).

 

Ia menjelaskan, perhitungan kebutuhan metabolisme seseorang melibatkan sejumlah faktor, termasuk berat badan, tinggi badan, jenis kelamin, serta usia. Namun, setiap orang juga memiliki karakteristik metabolisme yang dipengaruhi faktor genetik.

 

“Kita semua ini udah punya cetakan laju metabolisme yang bawaan, yang genetikanya ada,” jelasnya.

 

Perbedaan tersebut dapat terlihat dari bentuk tubuh dan kecenderungan seseorang dalam menyimpan lemak. Ada orang yang relatif mudah mengalami kenaikan berat badan, sementara orang lain bisa makan lebih banyak tetapi berat badannya relatif sulit bertambah.

 

“Nah, itu tuh udah ada cetakan genetik masing-masing termasuk juga dengan deposit lemak,” katanya.

 

Menurut dr. Metta, faktor genetik juga ikut memengaruhi bentuk tubuh seseorang. Ia mencontohkan bentuk tubuh apple shape dan pear shape, yang menggambarkan kecenderungan penumpukan lemak di bagian tubuh yang berbeda.

 

Namun, ketika berbicara mengenai metabolisme, ada satu hal yang menurutnya masih dapat dikelola, yakni massa otot.

 

“Karena walaupun kita semua punya bawaan laju metabolisme, kita juga punya tingkat usia yang kita nggak bisa atur tapi kita bisa manage otot kita,” ujarnya.

 

Dr. Metta menegaskan bahwa massa otot memiliki peran penting dalam menentukan laju metabolisme. Semakin terjaga massa otot, semakin besar pula dukungan terhadap metabolisme tubuh.

 

“Jadi, yang bikin laju metabolisme tinggi itu adalah otot,” katanya.

 

Sebaliknya, tubuh dengan komposisi lemak yang lebih dominan dapat memiliki laju metabolisme yang lebih rendah. Karena itu, ia mengingatkan agar program diet tidak dilakukan secara ekstrem.

 

“Kalau kita diet terlalu ekstrim, otot habis yang ada metabolismenya akan makin lambat,” jelasnya.

 

Diet dengan memangkas asupan secara berlebihan justru dapat menjadi bumerang apabila massa otot ikut berkurang. Karena itu, menjaga metabolisme tidak cukup hanya dengan mengurangi jumlah makanan.

 

“Jadi, jangan juga secara ekstrim dikurangi asupannya dan menjaga metabolisme itu harus juga dengan lifestyle yang benar,” ujar dr. Metta.

 

Ia menyarankan agar kebutuhan protein dan total kalori tetap diperhatikan, disertai istirahat yang cukup dan aktivitas fisik.

 

“Jadi tadi protein mesti cukup, asupan kalori total mesti cukup, istirahat mesti cukup, plus apa? Olahraga,” katanya.

 

Olahraga kardio memang penting, tetapi menurut dr. Metta latihan kekuatan juga tidak boleh dilupakan. Seseorang bisa saja rajin melakukan kardio untuk menurunkan berat badan, tetapi jika tidak mempertahankan massa otot, hasilnya belum tentu ideal untuk metabolisme.

 

“Olahraga, kardio iya, sama kadang-kadang yang suka teman-teman lupa udah kardio tapi nggak pernah strength training, nggak pernah latihan kekuatan otot,” ungkapnya.

 

Kondisi tersebut dapat membuat seseorang terlihat langsing tetapi memiliki massa otot yang rendah. Fenomena ini sering disebut dengan istilah skinny fat.

 

“Jadi melangsing, mengurus tapi ototnya kecil. Pas dicek metabolismenya ya rendah juga. Sama aja. Itu makanya ada istilah-istilah seperti skinny fat dan lain-lain,” pungkas dr. Metta.