Peristiwa

Usia 104 Tahun, Nawi Masih Simpan Peluru Perang di Tubuhnya

5
×

Usia 104 Tahun, Nawi Masih Simpan Peluru Perang di Tubuhnya

Sebarkan artikel ini

Padang, Warganet – Usianya telah mencapai 104 tahun, tetapi ingatan Nawi masih menyimpan jelas kisah perjuangan yang dilaluinya sejak masa penjajahan. Bahkan, sebuah peluru yang menembus pahanya pada 1957 masih bersarang di tubuhnya hingga kini.

 

Melansir laman resmi Pemerintah Kota Padang, Kamis (13/8/2026), Nawi merupakan veteran yang mengalami langsung berbagai fase penting dalam perjalanan sejarah Indonesia.

 

Pria kelahiran 12 Mei 1923 tersebut terjun dalam perjuangan sejak masih berusia belasan tahun. Langkahnya menyusuri sejumlah wilayah, mulai dari Banda Bakali, Lubuk Alung, Rimbo Kaluang, Andaleh hingga Seberang Padang.

 

Nawi bahkan dipercaya memimpin sekitar 300 pemuda sebagai Komandan Regu Pasukan Hizbullah wilayah Kapalo Koto. Dengan persenjataan seadanya, mereka tetap berjuang menghadapi penjajahan.

 

“Senjata kami waktu itu talang baranjuang (bambu runcing). Kami berjuang lima tahun sebelum merdeka. Belanda harus angkat kaki dari Indonesia, itu tekad bulat di hati kami,” kenang Nawi.

 

Jika memiliki senjata seperti senapan Bren, rantai maupun granat, senjata tersebut diperoleh setelah direbut dari tangan musuh dalam pertempuran jarak dekat.

 

Perjuangan Nawi juga membawanya melewati masa pendudukan Jepang pada 1942. Ia mengenang periode tersebut sebagai salah satu masa paling sulit dalam hidupnya.

 

“Zaman Jepang paling susah makan. Kerja diperas banyak-banyak, makan cuma sedikit,” tuturnya.

 

Setelah Jepang meninggalkan Indonesia dan perang kemerdekaan melewati masa-masa genting, perjuangan Nawi belum berakhir. Pada 1957, ia kembali terlibat dalam pergolakan daerah.

 

Dalam konflik tersebut, sebuah peluru menembus pahanya. Yang mengejutkan, peluru itu hingga kini masih bersarang di dalam tubuhnya.

 

“Waktu itu saya tertembak di paha. Dokter sudah menyarankan untuk operasi dikeluarkan, tapi saya tidak mau. Lagipula tidak terasa sakit lagi,” ujarnya sembari tersenyum.

 

Melewati usia lebih dari satu abad, Nawi juga telah mengalami banyak kehilangan. Ia kehilangan dua istri serta lima dari delapan anaknya.

 

Meski demikian, berbagai pengalaman tersebut tidak mengikis semangatnya untuk terus berbuat baik kepada sesama.

 

Nawi merupakan veteran Golongan A dan penerima tiga penghargaan Satyalancana pada era Presiden Soeharto dan Presiden Megawati Soekarnoputri.

 

Ketika ditanya mengenai prinsip hidupnya, Nawi memberikan jawaban sederhana.

 

“Saya tidak ingin menyakiti orang lain, saya selalu ingin membantu kawan. Jiwa itu yang selalu saya tanamkan,” ungkapnya.

 

Nawi juga memegang teguh falsafah Minangkabau, “Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Saciok bak ayam, sadanciang bak basi.”

 

Falsafah tersebut menggambarkan pentingnya kebersamaan dan saling membantu dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Kini, bambu runcing dan dentuman senjata hanya menjadi bagian dari masa lalu. Bagi Nawi, perjuangan generasi saat ini bukan lagi mengangkat senjata, melainkan menjaga persatuan dan meneruskan semangat kebersamaan.

 

Kisah Nawi menjadi pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia tidak diperoleh secara cuma-cuma. Di baliknya terdapat darah, air mata, pengorbanan dan masa muda para pejuang yang rela mempertaruhkan hidup demi bangsa.