Teknologi

BRIN Bidik Energi Masa Depan, Kembangkan Hidrogen Hijau dari Sinar Matahari Indonesia

10
×

BRIN Bidik Energi Masa Depan, Kembangkan Hidrogen Hijau dari Sinar Matahari Indonesia

Sebarkan artikel ini

Bandung, Warganet – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi sel surya tandem untuk menghasilkan hidrogen hijau berbasis energi matahari. Inovasi ini menjadi salah satu upaya menghadirkan sumber energi masa depan yang rendah karbon dengan memanfaatkan potensi sinar matahari Indonesia.

Melalui pendekatan sel surya tandem, tim peneliti BRIN menggabungkan beberapa lapisan pemanen cahaya agar mampu menghasilkan tegangan lebih tinggi. Tegangan tersebut digunakan untuk memisahkan molekul air menjadi hidrogen dan oksigen, sehingga energi matahari dapat disimpan dalam bentuk energi kimia.

Melansir laman resmi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Selasa (4/8/2026), pengembangan teknologi ini dilakukan oleh tim peneliti dari Pusat Riset Elektronika (PRE) BRIN. Peneliti BRIN Wilman Septina memaparkan riset berjudul “Tandem Photovoltaic and Photoelectrochemical Devices for Solar Hydrogen Production” dalam kegiatan Sharing Ilmiah Sains & Teknologi Elektronika dan Manfaatnya volume ke-4, Rabu (29/7/2026).

“Penggunaan hidrogen berbasis energi surya memungkinkan kita menyimpan energi matahari ke dalam bentuk energi kimia. Saat hidrogen digunakan sebagai bahan bakar, tidak ada emisi gas rumah kaca atau karbon yang dihasilkan, melainkan hanya air. Ini menjadi salah satu jalur terbaik untuk mendukung transisi menuju energi hijau,” ujar Wilman Septina.

Wilman menjelaskan, proses pemisahan air membutuhkan tegangan listrik tertentu agar reaksi dapat berjalan secara mandiri tanpa bantuan listrik eksternal dalam jumlah besar. Sementara itu, sel surya tunggal umumnya belum mampu menghasilkan tegangan yang cukup untuk proses tersebut.

Untuk mengatasi tantangan itu, BRIN mengembangkan teknologi sel surya tandem dengan menggabungkan dua sistem pemanen cahaya matahari. Penggabungan tersebut diharapkan mampu menghasilkan tegangan dan arus yang sesuai untuk memisahkan air menjadi hidrogen dan oksigen.

Indonesia memiliki peluang besar dalam pengembangan energi surya karena berada di wilayah tropis dengan paparan sinar matahari sepanjang tahun. Namun, tantangan energi matahari masih terletak pada sifatnya yang intermiten atau bergantung pada waktu dan kondisi cuaca.

Dalam riset ini, salah satu material yang dikaji adalah perovskit halida CsPbBr₃. Material tersebut memiliki kemampuan menyerap cahaya tinggi dan berpotensi menghasilkan tegangan fotolistrik besar. Selain itu, material ini dapat diproses menggunakan metode berbasis larutan yang berpeluang menekan biaya fabrikasi.

“Kami mengkombinasikan material sel surya perovskite untuk memaksimalkan penyerapan spektrum sinar matahari. Selain itu, kami juga merancang lapisan pelindung berbasis grafit agar komponen perangkat tetap stabil dan tahan lama saat dioperasikan di dalam larutan elektrolit,” ungkap Wilman.

BRIN menargetkan pengembangan teknologi ini mampu meningkatkan efisiensi konversi energi surya menjadi hidrogen, memperpanjang ketahanan perangkat, serta membuka peluang penerapan produksi hidrogen bersih dalam skala yang lebih luas.

“Dengan inovasi perangkat tandem ini, kita berharap proses produksi hidrogen ramah lingkungan dapat dilakukan secara lebih praktis, langsung dari pemanfaatan air dan sinar matahari,” tutup Wilman.

Melalui pengembangan hidrogen hijau berbasis energi surya, BRIN terus mendorong inovasi teknologi untuk mendukung transisi energi bersih dan mengurangi emisi karbon di masa depan.