Palembang, Warganet – Di sebuah rumah yang dindingnya seakan dihiasi tumpukan buku cerita, seorang ayah bernama Slamet Nugroho, atau yang akrab disapa Kak Inug Dongeng, menghabiskan banyak waktunya untuk mendongeng. Ia membacakan kisah turun‑temurun, menghidupkan setiap tokoh lewat nada bicara, raut wajah, hingga gerak tangannya. Padahal di rumah yang sama, tumbuh seorang anak yang tak pernah sekalipun mendengar suara itu.
Anak itu bernama Telaga Bening Deslaya.
Meski terlahir tak bisa mendengar, Bening besar di tengah suasana yang sangat akrab dengan dunia bacaan dan kisah. Ia sudah terbiasa melihat Kak Inug sedang bercerita di rumah maupun di berbagai tempat, ikut dibawa ke acara‑acara bacaan, sampai duduk berjam‑jam di antara rak buku yang tak pernah tertutup rapat.
Slamet Nugroho sendiri pun tak pernah benar‑benar tahu, bagaimana sebenarnya putrinya bisa mengerti setiap isi cerita yang ia bawakan. Namun ia yakin sepenuhnya bahwa kisah tak selamanya harus disampaikan lewat suara.
“Memang ia tak mendengar apa yang saya ucapkan saat mendongeng, tapi saya yakin ia paham semuanya lewat tatapan mata, gerak tubuh, gambar di halaman buku, dan suasana hangat yang tercipta saat kami sedang bercerita,” ujar Kak Inug.
Lama kelamaan, keyakinan itu terbukti nyata.
Tahun ini nama Bening masuk dalam daftar penerima Penghargaan Apresiasi Inklusi di ajang Pertunjukan Cerita Rakyat Indonesia 2026 yang diadakan langsung oleh Kementerian Kebudayaan. Saat tampil, siswi kelas X di SMLB YPAC Palembang itu memilih membawakan kisah Dompu Awang.
Bagi orang lain, penghargaan itu mungkin sekadar tanda keberhasilan di ajang tingkat nasional. Tapi bagi Slamet Nugroho, ada makna yang jauh lebih dalam dan menyentuh hati.
Ia melihat anak yang dulu hanya diam memperhatikan dari pinggir ruangan saat ia sedang mendongeng, kini justru yang berdiri di depan menjadi pencerita.
Ia menyaksikan sendiri bagaimana sebuah mimpi perlahan tumbuh, tanpa pernah dipaksa atau disuruh‑suruh.
Ketertarikan Bening pada dunia kisah tak lahir dari latihan keras atau kejar‑kejaran nilai. Semua bermula dari kebiasaan sederhana sehari‑hari di rumah. Dari buku‑buku yang selalu terbuka. Dari seringnya ikut melihat Kak Inug bekerja. Dari kesempatan menyaksikan langsung bagaimana sebuah kisah bisa membuat orang tertawa, terharu, atau termenung merenung.
Tanpa disadari, dunia yang sudah lama digeluti ayahnya perlahan merasuk dan menjadi bagian dari hidup anaknya sendiri.
Saat bersiap tampil di ajang nasional itu, perjalanan yang ditempuh Bening tak semulus yang dibayangkan orang. Ia berulang kali berlatih, melatih raut wajah agar pas dengan suasana kisah, menyusun urutan kejadian, sampai menghidupkan watak tokoh dengan caranya sendiri.
Setiap gerakan yang terlihat ringan dalam rekaman penampilannya, sesungguhnya lahir dari kesabaran dan ketekunan yang tak sedikit.
Keluarga, guru, juga teman‑temannya tak henti memberi semangat. Mereka yakin betul: keterbatasan pendengaran tak akan pernah sanggup menutup jalan bagi Bening untuk berkarya.
Hari‑hari menunggu kabar pun dilewati penuh harapan dan doa. Hingga akhirnya kabar yang dinanti itu datang juga.
Nama Telaga Bening Deslaya resmi diumumkan sebagai pemenang Penghargaan Apresiasi Inklusi.
Di balik piala dan piagam itu, ada senyum lebar seorang anak yang merasa seluruh usahanya akhirnya dilihat dan dihargai. Namun ada pula rasa bangga yang meluap di dada Slamet Nugroho, yang melihat anaknya perlahan menemukan jalannya sendiri.
Bukan sekadar ingin meniru atau menjadi sama persis seperti Kak Inug yang sudah lama dikenal orang sebagai pendongeng.
Melainkan tumbuh dan menjadi dirinya sepenuhnya.
Perjalanan hidup Bening ini jadi bukti nyata, bahwa mimpi seorang anak paling sering tumbuh dari hal‑hal kecil yang dicontohkan orang tua setiap hari. Dari apa yang dilihatnya, dari kebiasaan yang dibangun bersama, dari lingkungan yang memberi kebebasan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya disukainya.
Dan bagi Kak Inoeg, penghargaan yang diraih Bening ini rasanya bukan tanda berakhirnya sebuah perjalanan.
Ini justru awal dari kisah baru yang lebih panjang.
Kisah tentang seorang anak yang tak pernah mendengar suara ayahnya sedang mendongeng, tapi ternyata berhasil menangkap seluruh pesan dan maknanya. Kisah seorang ayah yang terus menabur benih kecintaan pada kisah dan bacaan, tanpa sadar kelak benih itu tumbuh menjadi mimpi yang luar biasa besar.
Sebuah mimpi yang kini sudah punya panggungnya sendiri.






