Kesehatan

Tak Hanya Kirim Masker, 314 Nakes Dikerahkan Hadapi Dampak Karhutla

4
×

Tak Hanya Kirim Masker, 314 Nakes Dikerahkan Hadapi Dampak Karhutla

Sebarkan artikel ini

Jakarta, Warganet – Di tengah kepungan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tenaga kesehatan menjadi bagian penting dalam upaya melindungi masyarakat dari dampak buruk kualitas udara. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengerahkan 314 tenaga medis dan tenaga kesehatan (nakes) ke sejumlah wilayah terdampak karhutla.

 

Lebih dari 3 juta warga di 37 kabupaten/kota dilaporkan terpapar langsung kabut asap karhutla yang melanda tujuh provinsi di Indonesia. Kondisi tersebut turut memicu peningkatan kasus gangguan pernapasan, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

 

Melansir laman resmi Kementerian Kesehatan, Jumat (21/8/2026), tujuh provinsi yang terdampak karhutla meliputi Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Enam di antaranya telah menetapkan status siaga darurat bencana akibat kemarau panjang yang berlangsung sejak awal 2026.

 

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Agus Jamaludin mengatakan, 314 tenaga kesehatan yang dikerahkan terdiri dari dokter, perawat, bidan, dan epidemiolog. Pengerahan tenaga kesehatan tersebut terutama difokuskan ke wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.

 

“Sebagai upaya mitigasi kesehatan akibat karhutla, kami telah memobilisasi sejumlah 314 tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, dan epidemiolog dengan konsentrasi utama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan,” kata Agus di Jakarta, Jumat (21/8).

 

Kehadiran tenaga kesehatan menjadi penting seiring meningkatnya gangguan kesehatan yang dialami masyarakat akibat paparan asap. Di Kalimantan Tengah, misalnya, kasus ISPA meningkat dari 402 kasus menjadi 716 kasus hanya dalam waktu satu pekan atau melonjak 78,1 persen.

 

Sementara itu, Kalimantan Barat mencatat lebih dari 151 ribu kasus ISPA sejak Januari 2026. Lonjakan kasus tertinggi dilaporkan terjadi di Pontianak, Kubu Raya, dan Mempawah. Kasus asma dan iritasi juga turut dilaporkan di sejumlah wilayah terdampak, termasuk Riau dan Kalimantan Selatan.

 

Untuk memperkuat pelayanan di lapangan, Kemenkes tidak hanya mengerahkan tenaga kesehatan, tetapi juga mengirimkan berbagai perlengkapan medis dan obat-obatan. Bantuan yang disalurkan mencakup 278.940 masker, 56 unit Oxygen Concentrator, 40 face shield, 1.000 pasang sarung tangan medis, 36 tabung Oxycan, delapan set alat pelindung diri, 33 dus Pemberian Makanan Tambahan (PMT), serta obat-obatan dan vitamin.

 

Di sejumlah titik rawan seperti Kabupaten Barito Utara, Barito Timur, dan Kota Palangkaraya, pemerintah juga mendirikan pos kesehatan dan ruang oksigen. Sementara di Kalimantan Barat, program “Oase Udara” dijalankan di fasilitas kesehatan untuk memastikan ketersediaan oksigen bagi warga yang mengalami sesak napas.

 

Pengerahan Nakes dilakukan di tengah prediksi puncak musim kemarau yang masih berlangsung hingga September 2026. Kondisi tersebut membuat risiko paparan asap karhutla masih perlu diwaspadai masyarakat.

 

Kemenkes mengimbau warga di wilayah rawan karhutla membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar. Masyarakat juga diminta rutin memantau indeks kualitas udara, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, memperbanyak konsumsi air putih, serta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala gangguan pernapasan.

 

Di tengah kualitas udara yang memburuk, 314 Nakes dikerahkan untuk memastikan masyarakat terdampak tetap mendapatkan perlindungan dan pelayanan kesehatan. Langkah tersebut menjadi bagian dari respons Kemenkes menghadapi dampak kesehatan karhutla yang masih mengancam sejumlah wilayah Indonesia.