Kesehatan

Bukan Cuma Water Bombing, Ini 4 Kunci Pengendalian Karhutla Menurut Menhut

5
×

Bukan Cuma Water Bombing, Ini 4 Kunci Pengendalian Karhutla Menurut Menhut

Sebarkan artikel ini

Jakarta, Warganet – Pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman dari udara. Kesiapan pasukan darat, penegakan hukum, hingga keterlibatan masyarakat juga menjadi faktor penting untuk mencegah kebakaran kembali terjadi.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan empat faktor tersebut saat mengawal langsung operasi pengendalian karhutla di Kalimantan Selatan pada Senin (12/10/2026). Setelah itu, kegiatan pengendalian akan berlanjut ke Kalimantan Tengah.

Melansir situs resmi Kementerian Kehutanan pada 12 Oktober 2026, Raja Juli mengapresiasi kondisi pengendalian karhutla di Kalimantan Selatan. Namun, ia mengingatkan agar seluruh pihak tetap waspada karena hujan diperkirakan baru turun di wilayah tersebut pada pertengahan November.

“Per hari ini tercatat Alhamdulillah Kalimantan Selatan angka hotspotnya terbaik. Namun hal itu tidak membuat kita terlena karena seperti yang disampaikan BMKG hujan alam itu baru akan hadir di Kalsel pada pertengahan bulan November,” kata Raja Juli saat meninjau lokasi karhutla.

Ia mengingatkan bahwa kondisi lahan gambut membuat kebakaran berpotensi kembali terjadi apabila pengendalian dan kewaspadaan mulai berkurang.

Menurut Raja Juli, koordinasi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, BMKG, BPBD, Manggala Agni Kementerian Kehutanan, dan relawan menjadi bagian penting dalam upaya mengatasi sekaligus mencegah karhutla.

Empat Faktor Pengendalian Karhutla

Faktor pertama adalah dukungan pasukan udara melalui water bombing atau pemadaman menggunakan bom air, serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Pemerintah, kata Raja Juli, telah mengerahkan dukungan udara secara maksimal untuk membantu pemadaman.

Khusus di Kalimantan Tengah, kendala yang dihadapi antara lain jarak pandang akibat kabut tebal. Kondisi tersebut membuat helikopter yang telah bersiaga belum dapat beroperasi. Meski demikian, operasi tetap akan dilakukan apabila kondisi memungkinkan untuk penerbangan.

Faktor kedua adalah kekuatan pasukan darat. Raja Juli menekankan pentingnya peran TNI, Polri, Manggala Agni, dan relawan dalam penanganan kebakaran di lapangan.

Faktor ketiga ialah penegakan hukum terhadap pelanggaran yang berkaitan dengan karhutla. Menurut Raja Juli, langkah penindakan menjadi bagian penting dari upaya pengendalian. Ia menyebut sejumlah perusahaan telah dicabut atau dibekukan izinnya, sementara beberapa lainnya menjalani proses pidana.

“Faktor ketiga penegakan hukum. Ini penting sekali. Berapa banyak perusahaan yang sudah dicabut izinnya atau dibekukan izinnya bahkan beberapa masuk proses pidana,” ujarnya.

Faktor keempat adalah keterlibatan aktif masyarakat dalam mencegah kebakaran. Menhut mengimbau masyarakat menghindari praktik pembukaan lahan dengan cara membakar serta berbagai aktivitas yang berpotensi memicu api.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak membuang puntung rokok sembarangan dan tetap berhati-hati saat menggunakan sumber api, termasuk api unggun maupun obat nyamuk.

“Masyarakat jangan main api, jangan membuka kebun dengan membakar maka hasilnya akan baik. Kita ajak masyarakat jangan main api sesederhana jangan buang puntung rokok sembarangan, api unggun kecil, obat nyamuk, kasihan masyarakat korban Karhutla,” tegasnya.

Raja Juli berharap koordinasi antarlembaga dan dukungan masyarakat dapat terus dijaga agar pengendalian karhutla berjalan efektif. Kewaspadaan tetap diperlukan, terutama di wilayah bergambut yang berisiko mengalami kebakaran berulang selama kondisi cuaca masih kering.