Lifestyle

Mahasiswa ITS Rancang Ruang Ajaib yang Bantu Anak Panti Lebih Kreatif dan Mandiri

3
×

Mahasiswa ITS Rancang Ruang Ajaib yang Bantu Anak Panti Lebih Kreatif dan Mandiri

Sebarkan artikel ini

Surabaya, Warganet – Keterbatasan jumlah pengasuh di panti asuhan dapat berdampak terhadap perkembangan kognitif anak usia dini. Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan solusi melalui rancangan interior berbasis open-ended play environment yang dirancang untuk mendorong kreativitas dan kemandirian anak panti.

 

Gagasan inovatif tersebut dikembangkan oleh Hartaji Ramzani, mahasiswa Departemen Desain Interior ITS. Rancangan ini berangkat dari kondisi Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) Balita Tunas Bangsa di Jakarta yang memiliki rasio pengasuh dan anak mencapai 1 banding 6, lebih tinggi dibanding kondisi ideal 1 banding 4.

 

Menurut Hartaji, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi proses tumbuh kembang anak, khususnya dalam aspek kognitif. Karena itu, ia merancang ruang yang memungkinkan anak tetap dapat bereksplorasi dan belajar secara mandiri melalui aktivitas bermain.

 

“Ruang ini mengajak anak belajar mandiri melalui pengalaman bermain,” ujar mahasiswa yang akrab disapa Aji tersebut.

 

Konsep open-ended play environment diterapkan melalui berbagai fasilitas interaktif, seperti pegboard toy pada dinding serta furnitur fleksibel yang dapat disusun ulang. Dengan konsep tersebut, anak tidak hanya bermain, tetapi juga dilatih untuk mengembangkan kreativitas melalui imajinasi dan eksplorasi.

 

Rancangan tersebut berfokus pada tiga indikator utama kreativitas balita, yakni openness, creative abilities, dan independence. Ketiga aspek itu diwujudkan melalui area bermain bebas, sarana multifungsi, hingga penataan ruang yang tidak membatasi anak dalam mengeksplorasi lingkungan sekitar.

 

“Ketiga indikator tersebut dapat dilatih secara alamiah melalui pendekatan desain interior,” jelas Aji.

 

Dari sisi visual, desain interior yang dibuatnya menggunakan pola segitiga dan belah ketupat yang terinspirasi dari bentuk atap rumah. Setiap perabot juga dirancang dengan sudut tumpul dan tinggi maksimal satu meter untuk memastikan keamanan balita.

 

Selain itu, pemilihan warna lembut seperti hijau dan merah muda disesuaikan dengan tingkat aktivitas motorik pada setiap ruang. Desain tersebut dikembangkan dengan arahan dosen pembimbing Ajeng Kusumadewi Putri Jatmiko dan Yaritsa Husni Sabiela agar tetap mengutamakan aspek keamanan serta inklusivitas.

 

Melalui inovasi ini, Aji berharap rancangan interior tersebut dapat menjadi referensi bagi pengelola panti asuhan dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.

 

“Semoga perancangan ini dapat menjadi referensi solutif bagi pengelola panti asuhan,” harapnya.

 

Rancangan tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, poin 4 mengenai pendidikan berkualitas, serta poin 10 terkait pengurangan kesenjangan dengan memberikan kesempatan tumbuh kembang yang lebih setara bagi anak-anak panti.